oleh

Strategi Bobby Menjual Penyengat

MASWITO
ASN Disparbud Kota Tanjungpinang

 

PEMBACA jangan terkejut dengan judul opini  yang saya tulis ini. Bukan bermaksud ingin menjual Pulau Penyengat. Karena tidak mungkin pulau itu dijual dalam artian yang sebenarnya. Apalagi seorang Bobby Jayanto tidak punya tanah di pulau itu.

Kata menjual dalam  judul tulisan ini hanya  kiasan belaka dalam rangkaian strategi promosi dan pemasaran pariwisata Pulau Penyengat.

Saat  ini pariwisata sudah menjadi sebuah industri.  Industri  “tanpa gerbang asap” ini sudah menjadi andalan untuk meningkatkan geliat perekonomian  di dunia, termasuk di Indonesia.  Seharusnya ketika pariwisata sudah menjadi sebuah industri, pembangunan pariwisata haruslah yang terdepan, bukan malah sebaliknya. Terabaikan atau dibiarkan.

Jujur diakui ketika pariwisata sudah menjadi industri, masih ada di antara  segelintiran orang yang pesimis terhadap pengembangan pariwisata di Pulau Penyengat. Alasannya bermacam-macam.   Ada yang dibisa diterima akal sehat. Sebaliknya adapula yang mengada-ngada.  Semuanya tergantung dari sudut mana kita menilainya.

Namun di antara yang pesimis itu ada orang yang merasa optimis.  Pulau Penyengat  bisa dikembangkan sebagai destinasi pariwisata unggulan daerah terdepan di Kota Tanjungpinang bahkan Provinsi Kepri.   Asalkan…

Bobby Jayanto adalah seorang pengusaha sukses di Tanjungpinang  yang memandang  “Pulau Mas Kawin” itu sebagai aset  berharga yang harus dikembangkan untuk mendongkrak perekonomian masyarakat.  Wabilkhusus masyarakat  tempatan.

Kamis, 19 September  lalu di kantornya di bilangan Rawasari, Tanjungpinang, saya, Zulhidayat, dan Jefrizal dari Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan  (Bapelitbang) Kota Tanjungpinang mendiskusikan tentang  pengembangan pariwisata di Tanjungpinang, khususnya Pulau Penyengat bersama Bobby Jayanto. Diskusi terbatas.

Bersama kami ikut pula Nordiana Gustina – mahasiswi Fakultas  Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Administrasi, Program Studi Pariwisata, Universitas Riau, Pekanbaru, Riau yang sedang “magang” di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang.  Diskusi berlangsung hangat karena Bobby tak hanya menceritakan teori tapi realita yang dialaminya di lapangan. Baik  dalam kapasitasnya sebagai pengelola  maupun pelaku pariwisata di Tanjungpinang sejak puluhan tahun silam.

Bobby yang juga anggota Tim Percepatan Pembangunan Kebudayaan Kota Tanjungpinang mengatakan,  Pulau Penyengat itu luar biasa  nilai jualnya.  Pulau itu sudah punya nama, eksoktis, dan posisinya sangat strategis. Tinggalan sejarahnya juga masih ada.  Tugas sekarang bagaimana kita mengemas pulau nan mungil itu semenarik mungkin untuk dijual kepada wisman dengan tidak melupakan masyarakat tempatan.

“Saya punya mimpi tersendiri untuk  “menjual” pulau ini agar  perekonomian masyarakat tempatan  bergeliat dan pundi-pundi uang mengalir ke pulau itu. Saya ingin pemerintah satu kata  “menjual” pulau ini kepada wisatawan baik domestik maupun mancanegara,”  kata Bobby memulai ceritanya yang layak diberi tema: “Quo Vadis Pembangunan Pariwisata Penyengat.”

Sebuah diskusi  asyik  dengan tema yang menarik pula. Sebagai sebuah pulau, kita sepakat Penyengat  itu sudah punya nama mendunia.  Sayang nama Penyengat yang sudah melegenda itu tak bisa “dijual” kepada wisman yang hilir mudik dihadapan kita saat ini. Setiap hari  ratusan wisman berdatangan ke Pulau Bintan, termasuk ke Tanjungpinang.

Setahun terakhir ini limpahan wisman dari Tiongkok pun mulai membanjiri daerah ini.  Terbaru, ribuan wisman dari  kapal pesiar Genting Dream Cruise sudah singga di kawasan perairan Bandar Bentan Telani (BBT), Lagoi, Kabupaten Bintan.

Sayang, wisman dari Tiongkok ini tidak “plesiran” ke pulau penuh sejarah itu. Kenapa?  Bobby punya jawaban sendiri.  “Jangan salahkan jika mereka tidak mau plesiran ke Pulau Penyengat.  Mereka tau kita tidak siap untuk itu mereka tak mau datang,” ujar  Bobby  prihatin.

Bobby mengaku secara intens melakukan komunikasi dengan guide yang membawa wisman dari  Tiongkok ke Pulau Bintan ini.  Dan, dari pengakuan itulah  Bobby mengatahui “benang merah” mengapa wisman dari  Tiongkok itu tak mau plesiran ke pulau asal usul Bahasa Indonesia itu.

Kendati  disampaikan dengan bahasa yang santun diselingi  humor  segar, namun masukan Bobby itu terasa menusuk sampai ke sum-sum.   Istilah  Dayat – sapaan akrab Zulhidayat,  Kabid Ekonomi di Bapelitbang  Kota Tanjungpinang,   mengena.  Sasaran tembaknya kena. Pernyataan Dayat ini diamini oleh Jefrizal, Kasubdid di bidang ekonomi Bapelitbang yang juga putra asli dan tinggal di Pulau Penyengat.

“Bagi masyarakat  biasa yang tidak peduli dengan dunia pariwisata,  apa yang disampaikan Pak Bobby itu mungkin terasa biasa-biasa saja. Namun sebaliknya bagi yang bekerja  dan bersinggungan langsung dengan dunia pariwisata masukan Pak Bobby itu sangat berharga. Inilah contoh riil masukan hangat tapi menyengat itu,” kata  Dayat sembari menunjuk telunjuk tangan kanannya ke  dada sambil mengutip lagu “Sakitnya Tu  di Sini” dari artis dangdut ibukota Cita Citata itu.

Diakui secara jujur, sejak dibukanya charter flight – City Link dari  Tiongkok ke Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang setahun lalu,  kunjungan wisman dari Tiongkok mengalami  peningkatan yang cukup significant.  Laporan statistik bulanan tentang lalu lintas orang asing dari Kantor Imigrasi Tanjungpinang  pada bulan Mei 2018 lalu tercatat 11.219  wisman ke Tanjungpinang. Tiongkok  menempati urutan pertama yakni 5.276.  Setelah itu menyusul  Singapura (4.357), Malaysia (806), India (289), dan lain-lain.  Jumlah kunjungan ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan penambahan charter flight dari beberapa daerah di Tiongkok.

Sebelumnya pada tahun 2017  berdasarkan release dari Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau, wisman  dari Singapura, Malaysia, Tiongkok, India, Korea Selatan, Filipina, dan Jepang terbanyak mengunjungi Kepri. Tiga yang pertama (Singapura, Malaysia, dan Tiongkok)  memberi kontribusi hampir mencapai 70 persen di mana masing-masingnya mengambil porsi sebesar 49,56  persen, 12,16 persen, dan 7,4 persen.  Itu artinya, ketika Kepri ingin mendongkrak jumlah wisman pada tahun 2018, hendaknyalah ketiga negara tersebut dijadikan target prioritas atau fokus pasar utama.

Sayangnya setakad ini  wisman dari Tiongkok  yang sudah berada di depan mata itu belum mau menginjakkan kaki mereka ke Pulau Penyengat.  Mereka lebih memilih Lagoi di Bintan. Di Tanjungpinang mereka cuma datang ke klenteng di Senggarang dan  wihara “Patung Seribu”.  Mereka hanya menjadikan Tanjungpinang sebagai tempat transit saja. Inilah  “pekerjaan rumah” yang  harus dicarikan solusinya oleh wali kota Tanjungpinang terpilih agar ratusan wisman  dari Tiongkok dan mungkin ribuan wisman dari kapal  Cruise bisa  datang ke Pulau Penyengat.

Keunggulan Penyengat

Menurut  Bobby ada beberapa keuntungan komparatif yang dimiliki Penyengat sebagai faktor penarik (pull factor) bagi wisman. Pertama; Pulau Penyengat sudah punya nama dan mendunia dan melengenda sebagai pulau asal Bahasa  Nasional Indonesia. Kedua;letak geografis Pulau Penyengat relatif  dekat dengan biaya transportasi dari Tanjungpinang relatif murah.  Ketiga;  Kuliner di Pulau Penyengat yang murah dan beragam dengan citarasa yang relatif berbeda. Keempat; Sikap toleransi dan keramahan masyarakat Pulau Penyengat yang cukup tinggi. Kelima; Destinasi masih terpelihara dengan infrastruktur  yang sudah ada, dan lain-lainnya.

Dengan bermodalkan keunggulan-keunggulan komparatif di atas hendaknyalah wisman Singapura, Malaysia, dan Tiongkok  yang dijadikan target pasar paling prioritas sebagai sumber wisman bagi Kepri saat ini bisa datang ke Pulau Penyengat. Kendati kedatangan mereka hanya dalam hitungan jam atau sekedar ber-foto selfy di pulau itu.

Banyak wisman yang masuk ke Tanjungpinang melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi di Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura maupun Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah hanya melihat  Pulau Penyengat dari kejauhan dan peta.  Hati mereka belum tergerak untuk menyebrang ke pulau nan eksotis tersebut untuk melihat mutiara terpendam di pulau itu.

Padahal biaya transportasi dari pusat Kota Tanjungpinang ke pulau itu hanya Rp 7000 perkepala atau Rp 100 ribu kalau hendak charter pompong sekali jalan. Cukup murah bagi wisman  berkantong tebal. Dalam hitungan 10 s.d 15 menit dari Tanjungpinang sudah sampai ke Pulau Penyengat.   Begitu dekatnya pulau itu dari pusat ibukota Provinsi Kepulauan Riau ini.

Solusi yang ditawarkan Bobby

Lau upaya apa yang harus dilakukan untuk menjual Penyengat? Ada bebarapa solusi yang ditawarkan  Bobby, yakni:

1.   Ciptakan “selera” rasa aman dan nyaman ini  di Pulau Penyengat.  Di Bali ada pasukan khusus namanya “Pecalang” atau polisi tradisional Bali  yang siap menciptakan rasa aman dan nyaman selama  wisatawan berada di Bali.   Di Penyengat  kelompok sadar wisatanya perlu diberdayakan agar wisman yang datang ke pulau ini bisa nyaman dan bisa datang untuk kesekian kalinya. Selera ini harus diciptakan kalau ingin Penyengat dikunjungi wisman berkali-kali.

2.   Pembenahan transportasi  menuju Pulau Penyengat dan transportasi di  selama berada di Pulau Penyengat. Saatnya bugy dioperasikan di  pulau ini agar wisman bisa nyaman selama  menikmati perjalanan di  Pulau Penyengat. Saat ini di daerah-daerah  yang menjadi tujuan pariwisata kenderaan yang mengeluarkan “asap” perlahan tapi pasti sudah mulai ditinggalkan.

3.   Pembenahan masalah infrastruktur dan fasilitas kepariwisataan di tempat-tempat objek wisata di Pulau Penyengat. Penataan tempat para pedagang kuliner, fasilitas WC, kamar mandi untuk membilas badan, dan toko/kios souvenir harus segera dilakukan.

4.   Pemerintah daerah baik Provinsi Kepulauan Riau maupun Kota Tanjungpinang dapat merancang program-program atau kegiatan-kegiatan aksi untuk menarik dan memikat para wisman sesuai budaya, minat, dan selera masing-masing di Pulau Penyengat.

5.   Pelatihan guide dalam bahasa Mandarin untuk menggaet wisman dari Tiongkok. Ini perlu dilakukan  karena salah satu keluhan dari wisman dari Tiongkok itu adalah kesulitan dalam berkomunikasi.  Dalam catatan Bobby, ratusan anak Tanjungpinang dari etnis Tionghoa sekarang menjadi guide di Bali karena pangsa pasar mereka jelas.  Mereka ini harus ditarik ke Kepri untuk melayani wisman dari Tiongkok ini.

Trust  Harus Dijaga

Selain persoalan di atas,  yang tatkalah penting menurut Bobby adalah soal trust atau kepercayaan.  Trust itu sangat mahal dan tidak bisa dibeli.  Miliaran dana yang masuk ke Pulau Penyengat baik melalui APBN, APBD Provinsi Kepri maupun ABPD Kota Tanjungpinag akan terasa sia-sia jika trust antara pemerintah dengan  masyarakat  tempatan tidak terjalin. Trust inilah yang harus dijaga dan dikedepankan dalam membangun pariwisata di pulau ini.

Bobby punya pengalaman sendiri soal trust ini ketika merintis pendirian destinasi wisata “Patung Seribu”  dan sekarang sedang merintis pendirian agrowisata di Wacopek – Bintan. “Kalau kita bisa menjaga trust orang akan akan percaya dengan kita.  Sebaliknya jika trusttidak terjaga alamat kita akan kesulitan,” kata Bobby.

Sebuah pemikiran  dari Bobby. Semoga bermanfaat. (*)