oleh

Pertemuan di Ujung Jalan

Oleh: Wiska Adelia Putri

SIAPA…?

Siapa diriku…?

Badai begitu cepat menghancurkan jiwaku. Sangat pedih buatku mengingat kejadian, kebohongan, dan kesakitan ini. Mengapa aku yang harus mengalami. Ini tidak adil.

Tangan Lisa bergetar di atas Samsung Grand” miliknya. Ia menulis status. Air mata terus-menerus mengalir dipipinya. Lisa menuliskan luapkan perasaannya ke dalam sebuah sosial media yang menjadi sosmed  paling digemari di dunia yaitu,  facebook.

Biasanya hari-hari yang ia lewati bagaikan bunga mawar yang selalu mekar. Begitu indah, penuh warna dan wangi. Tetapi tiga hari yang lalu semuanya sudah berubah. Hidupnya hancur dan begitu suram. Ia tak menyangka mengapa kejadian ini harus menimpa dirinya? Mengapa tidak terjadi pada orang lain saja?

Di matanya yang basah kejadian tiga hari yang lalu membayang kembali. Seperti biasa  sore itu Lisa izin untuk bermain di rumah Caca sahabatnya yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Keluar dari kamar dia mendapati mama, papa, dan Tante Dona sedang asyik berbicara di ruang  keluarga.

“Pa, Ma, Lisa ke rumah Caca ya,”

“Kan ada Tante Dona, masa mau ke  rumah Caca juga,” pujuk mamanya.

“Ada tugas,  Ma! Lagian Tante Dona juga sering ke sinikan?’

“Ya sudah, hati-hati ya jangan kesorean pulangnya…,” kata papanya.

“Makasih, Pa, sayang …, Papa,” ujar  Lisa sambil memeluk dan mencium papanya.

Setelah mengucapkan salam sama mama dan papanya Lisa berlari kecil menuju rumah Caca. Namun,  belum lama berjalan dia kembali lagi ke rumah karena handphonenya ketinggalan. Namun  belum sempat ia masuk dan mengucapkan salam terdengar percakapan pelan namun bagaikan petir yang memecahkan setiap relung hatinya, bahkan memberantakan hidupnya. Lisa bergetar dengan hati yang kaku di samping pintu.

“Bang Azri jangan terlalu memanjakan Lisa. Suka tidak suka, Abang harus menjaga jarak dengan Lisa. Dia sudah aqil baliq. Sudah membatalkan air wuduk. Sudah tidak pantas lagi untuk dipeluk dan dicium,“  kata Tante Dona.

“Namun sulit buat menghilangkan kebiasaan itu Dona, dia itu anak kami. Bagi kami dia masih kecil, baru kelas VII SMP. Jika aku coba menghindar nanti ia malah curiga kepadaku,” kata ayah Lisa dengan nada yang lesu. Matanya berkaca.

“Iya,  Bang. Aku paham,  tapi itu sudah aturan dalam agama kita Islam. Abang bukan muhrim dengan Lisa,” kata Tante Dona lagi.

“Sudahlah Dona, kamu jangan terlalu memaksa Bang Azri, ia sudah menganggap Lisa itu bagai anak kandungnya sendiri. Dona perkataanmu itu menyakiti kami. Kamu tidak mengerti kalau kami berdua sangat menyayangi Lisa,” jawab Mama Lisa  sambil menangis.

“Maaf, Kak, aku hanya mengingatkan. Aku tahu kalian sangat menyayanginya. Namun hukum Allah tidak boleh dilanggar. Apa pun alasannya Lisa tetaplah bukan anak kandung kalian,” Tante Dona juga menangis.

Bum… dentuman sangat keras menghantam telinga Lisa. Terasa menyakitkan mendengar bahwa  dia bukan anak kandung mama dan papanya. Pikirannya bercampur aduk saat itu,  pipinya  basah. Ia tak tahan lagi membendung airmatanya. Lisa membuka pintu dengan wajah yang berderai airmata.

“Ma…, apa benar Lisa bukan anak kandung mama……..?”

“Apa benar,  Ma??” tanya Lisa sambil terus mengeluarkan airmatanya.

Kejadian itu sangat tak diduga. Namun, apa boleh buat hal yang tak diimpi-impikan hanya kebetulan terungkap sudah. Dengan berat hati mama  mengungkapkan hal yang sebenarnya.

“Iya sayang, maafkan mama karena ngak pernah memberitahukan kamu hal yang sebenarnya,” ujar mamanya  dengan raut sedih.

Mendengar itu hati Lisa seakan tanpa kendali, hatinya  hancur remuk mendengar kenyataan pahit ini.  Kakinya melangkah berlari menuju kamar tanpa mendengar maupun menjawab kata kata mamanya. Lisa menutup pintu kamarnya degan keras. Ia sangat sedih, mengingat kejadian itu. Facebook yang ingin ia matikan terhenti ketika melihat lihat status yang dibuat rupanya  ada  coment yang mengatakan, ”Kita mempunyai nasib yang sama.”

Lisa penasaran dengan coment tersebut lalu ia me-mesegges orang tersebut yang bernama LINDA JASSICA.

“Maaf, saya ingin bertanya apa maksud ibu menulis bahwa kita mempunyai nasib yang sama?” tulis tangan Lisa yang masih basah karena mengelap air matanya.

“Kamu lagi terkena masalah kan….?” balas Tante Linda itu meyakinkan.

“Bagaimana tante bisa tahu,”

Lisa penasaran dengan jawaban Tante Linda yang meyakinkan itu.

“Entahlah? firasat Tante berbicara begitu.”

“Ooh, emang Tante ada masalah juga ya sama keluarga tante?” tanya Lisa.

“Iya, masalah tante ini sangat besar sekali !!!! Beribu dosa dan kesesalan menumpuk pada diri tante saat ini.”

Kamu ada masalah apa…?”

“Emm, Lisa lagi pusiang banget, Tante!! Lisa itu rupanya anak angkat keluarga mama dan papa yang dari dulu merawat Lisa.”

“Hah……….!!!!!!!!!!!!!!

Lisa,  masalah kamu hampir sama dengan tante.  Tante itu dulu punya anak namun dia hilang saat tante  baru bisa berjalan karena melahirkan anak tante.  Kira-kira usianya jika berada di pangkuan tante seusiamu,”

“Hah!!! Kok bisa ya?? emang hal yang terakhir tante ingat ari anak tante itu apa??” tanya  Lisa yang makin penasaran.

“Seingat Tante, dia itu punya tanda lahir berupa bulatan kecil di lengan tangan kirinya.”

Lisa termenung. Ternyata tanda lahir yang disampaikan Tante Linda ada pada dirinya. Dia shock dan ingin cepat bertemu dengan Tante Linda.

“Ya…….. Tuhan, pertemukanlah aku dengan Tante Linda,”

“Aku rindu,”

Hari berganti hari,  Tuhan mendengarkan doa Lisa. Tanpa sengaja, di sebuah persimpangan jalan mereka bertemu. Sungguh mengharu biru. Inilah pertemuan di ujung jalan. (*)