oleh

Misteri Sampah di Laci

Oleh: Wiska Adelia Putri

SUASANA kelas sangat sunyi. Bu Indira, wali kelas VI-A  sedang marah. “Mengapa  kelas kalian ini  selalu saja kotor. Di laci meja sampahnya selalu ada. Padahal tong-tong sampah sudah tersedia di setiap kelas. Ibu tidak menyangka ternyata di kelas ini banyak siswa yang tidak disiplin dan kurang bertanggungjawab.  Sekarang ibu minta kalian jujur, siapa yang selalu membuang sampah dalam laci kelas?”

Kelas tetap sunyi. Siswa-siswa tidak ada yang mengaku. Mereka terlihat pucat.

“Oh… tidak ada yang mau mengaku ya. Jadi begini saja, andaikan ada yang ketahuan membuang sampah dalam laci meja lagi maka sekolah akan memberikan hukuman yang tegas. Bisa dipahami?”

Bu Indira pun memulai pelajaran. Waktu istirahatpun tiba-tiba. Anak-anak kelas VI-A berhamburan keluar kelas, kecuali Tania. Tania anak yang cantik. Kulitnya putih, hidungnya mancung. Di kelas Tania dikenal cukup baik dan santun. Tania memang jarang jajan di kantin. Dia selalu membawa bekal dari rumah. Ibunya tidak mengizinkannya jajan sembarangan karena banyak jajanan yang tidak aman.

Saat membuka bekalnya tiba-tiba datanglah dua sahabatnya,  Diana dan Fina. Diana anaknya lincah dan kadang suka usil, sedangkan Fina  seorang anak yang tomboi, paling senang bermain goli. Mereka sudah bersahabat cukup lama.

Diana dan Fina datang sambil membawa jajanan ke kelas. “Hai Tan, bawa bekal apa?” tanya Fina sambil melirik kotak bekal Tania.

“Hari ini aku bawa sosis dan telur,” jawab Tania sambil memasukan makanan ke mulutnya dengan pelan.

“Eh… eh, di kelas kita ini sudah tidak aman lagi ya, banyak yang kurang bertanggung jawab. Masak sampah dibuang dalam laci meja,” kata Diana geram.

“Mungkin Doni yang iseng membuang sampah di laci. Diakan suka usil dan paling nakal di kelas ini,” ujar Fina.

“Mungkin juga anak dari kelas lain, mereka nggak senang liat kelas kita bersih, lalu diam-diam membuang sampah di sini,” tambah Diana lagi.

“Eh… jangan menuduh sembarangan kalau tidak ada bukti. Belum tentukan si Doni ataupun anak kelas lain yang membuang sampah di kelas kita,” kata Tania mengingatkan teman-temannya agar tidak sembarangan curiga.

“Ya, benar juga, kalau tidak ada bukti kita tidak boleh menuduh sembarangan. Nanti orang bisa tersinggung,” kata Fina agak kesal.

“Jangan-jangan yang membuang sampah di laci meja kita itu hantu,” kata Diana sambil memegang tengkuknya. Tiba-tiba dia merasa takut sendiri dengan ucapannya.

“Ih… yang benar saja kamu Diana?” sambung Tania sambil melototkan matanya.

“Kan kemarin-kemarin nggak seperti ini. Kelas kita aman-aman saja. Kok sekarang ada pembuang sampah misterius.”

“Ih, kamu ini ada-ada sajalah Diana. Aku sih percaya kalau yang membuang sampah di laci meja kita itu memang hantu,” kata Fina sambil menatap kedua temannya.

“Maksudmu, kamu pernah liat hantunya?” tanya Tania dan Diana serentak.

“Maksud aku, yang tidak bertanggung jawab membuang sampah sembarangan itu kelakuannya mirip kelakuan hantu. Tidak bertanggung jawab, tidak disiplin, dan meresahkan orang lain. Kan itu pekerjaan hantu,” kata Fina sambil tertawa lebar.

“Aku kira hantu benaran,” kata Tania sambil mengurut dadanya. Dia takut.

“Teng… teng… teng…! Lonceng berbunyi. Tania dan kawan-kawannya kembali belajar. Tepatnya Bahasa Inggris. Mereka diajar oleh Miss Siti Aisyah. Guru pavorit kelas VI-A. Orangnya baik, ramah, dan selalu belajar denngan menyenangkan.

Miss Aisyah slalu saja membawa bermacam-macam gambar dan permainanan saat mengajar. Miss Aisyah pernah cerita bahwa dari dulu dia memang bercita-cita menjadi guru. Walaupun orang tuanya kaya raya dan pengusaha terkenal tetapi beliau tetap ingin jadi guru. Karena menurutnya pekerjaan guru itu mulia dan sangat menyenangkan. Tanpa terasa pelajaran Bahasa Inggris usai sudah. Jam Istirahat keduapun tiba. Seperti biasa anak-anak berhamburan ke kantin.

Tania tetap tenang di kelas ditemani Fani. Hanya Diana yang keluar ke kantin. Saat Diana menuju kantin untuk membeli air dia mendengar percakapan ketua kelas dan beberapa anak lainnya di bawah pohon ketapang samping sekolah . Ternyata Andika sang ketua kelas dan Rifki wakilnya sedang menyusun strategi untuk mengintai secara bergantian di kelas VI-A. Mereka ingin menjebak  dan menangkap orang yang membuang sampah sembarangan itu. Kalau tertangkap mereka akan menyerahkan pada Ibu Indira dan berharap orang itu dihukum.

“Eh… teman-teman tadi aku ke kantin, dan aku dengar ketua kelas kita akan mengintai kelas kita secara bergantian untuk menjebak si pembuang sampah itu,”

“Mudah-mudahan ketahuan ya pembuat onar itu,” jawab Tania sambil tersenyum.

Hari-hari berlalu. Sebulan sudah Andika dan Rifki melakukan pengintaian secara bergantian. Namun mereka tidak mendapatkan apa-apa. Anehnya laci-laci kelas  VI-A  sekarang selalu bersih. Tidak ada sampah-sampah lagi. Andika menjadi heran. Apakah ada yang tahu tentang pengintaian itu.

Akhirnya mereka menghentikan pengintaian itu. Anehnya setelah pengintaian dihentikan sampah-sampah kembali berserakkan di laci meja. Seluruh anak-anak kelas VI-A menjadi pusing karena selalu dimarah oleh guru-guru.

Bu Indira berdiri tegak di depan kelas. Anak-anak mulai cemas. Pasti ibu guru yang baik itu akan membicarakan lagi tentang sampah-sampah yang selalu ada di laci meja.

“Anak-anak ibu sangat sedih dengan sikap kalian yang tidak disiplin untuk membuang sampah pada tempatnya. Padahal tong-tong sampah sudah ada di mana-mana di sekolah kita ini. Tetapi masih saja banyak siswa-siswa yang membuang sampah di dalam pot bunga, di halaman sekolah, bahkan di laci meja. Untuk itu mulai saat ini ibu akan menunjuk beberapa anak yang akan menjadi tenaga sukarela untuk memungut sampah-sampah tersebut. Kalian bersedia?”

“Alaaah,  Bu, nggak maulah. Makan orang lain yang buang sampah kita yang harus mungutnya,” jawab ana-anak ribut.

“Ya,  Bu, apalagi harus mungut sampah satu sekolah ini. Capek, Bu,” kata Dodi.

“Kan Ibu hanya akan memilih anak tertentu saja, nggak semuanya, Tania, maukah kamu menjadi tenaga sukarelawan itu?” sambung Bu Indira lagi sambil menatap Tania.

Muka Tania menjadi pucat. Dia sangat takut. Jangan-jangan Bu Indira sudah tahu siapa yang selama ini selalu membuang sampah sembarangan itu terutama di laci-laci meja.

“Iya, Bu,” jawab Tania gugup.

Akhirnya Tania memungut semua sampah yang ada di sekeliling sekolah dan juga dalam laci-laci meja di kelasnya. Dia merasa sangat kesal harus memungut sampah yang bau itu sendirian. Alangkah tidak enaknya orang lain yang membuang sampah sembarangan tetapi dia sendirian yang harus memungutnya.

Tiba-tiba Tania merasa tidak enak sendiri karena selama ini secara diam-diam dia selalu iseng membuang sampah di laci-laci meja di kelasnya. Dia menyesal ternyata perbuatannya yang tidak disiplin dengan sampah telah merugikan banyak orang dan dia berjanji tidak akan melakukannya lagi. (*)