oleh

Mengintip Komunitas Tionghoa di Senggarang

Maswito
ASN Disbudpar Kota Tanjungpinang

ANDA ingin melihat komunitas Tionghoa yang lebih dikenal dengan istilah pecinan di Tanjungpinang Senggaranglah tempatnya. Secara administrasi pemerintahan, kini Senggarang termasuk Kelurahan Senggarang, Kecamatan Tanjungpinang Kota. Tepatnya berada di sebelah utara pusat kota Tanjungpinang.

Kawasan ini boleh dikatakan sebagai kawasan pecinan di Tanjungpinang. Dulu bahkan kini. Tak percaya, datanglah ke kawasan ini. Anda bisa melihat dan membuktikannya sendiri.

Di kawasan Senggarang, masyarakat Tionghoa pada umumnya tinggal di rumah yang mereka bangun di pinggiran laut. Untuk menghubungkan antara rumah yang satu dengan rumah yang lain, mereka membangun jalan yang mereka sebut dengan istilah “plantar”. Lebar plantar ini berkisar antara 1-2 meter. Panjangnya bervariasi.

Rumah di kawasan Pecinaan Senggarang.
Rumah di kawasan Pecinaan Senggarang.

Bila air pasang terlihat jarak antara lantai rumah dengan air laut dekat sekali. Sebaliknya, bila air surut, tampak tiang-tiang yang menopang rumah mereka. Ada yang terbuat dari beton. Ada pula yang terbuat dari kayu pilihan yang tak lapuk karena air laut.

Kapan komunitas etnis Tionghoa ini mulai berkembang di kawasan Senggarang? Dari berbagai sumber dijelaskan etnis ini berkembang pada masa pemerintahan Daeng Celak sebagai Yang Dipertuan Muda Riau II (1728 – 1745).

Pada masa Daeng Celak, kawasan Senggarang digalakkan sebagai tempat pengembangan tanaman gambir untuk komuditi ekspor.

Sebagai buruh atau pekerja di bidang pengolahan gambir, Daeng Celak – bangsawan Bugis asal Luwu ini banyak mempekerjakan etnis Tionghoa karena mereka lebih berpengalaman dibanding dengan etnis lainnya di Tanjungpinang waktu itu.

Sebagai kawasan pengembangan gambir, Daeng Celak memang memberikan kelonggaran kepada etnis Tionghoa untuk menempati kawasan Senggarang sebagai tempat kediaman atau pemukiman mereka.

Sejak itulah, kawasan Senggarang semakin berkembang sehingga berdirilah rumah ibadah untuk orang Tionghoa seperti vihara dan klenteng yang hingga kini masih dapat kita lihat bangunannya dan masih ramai dikunjungi.

Kemudian sebagai tempat pemukiman, kawasan Senggarang dikembangkan secara nyata baru pada masa Daeng Kamboja sebagai Yang Dipertuan Muda Riau III.

Kemudian pada masa Raja Haji sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV, etnis Tionghoa ini banyak diperkerjakan sebagai pembuat peluru/proyektil logam, dan mesiu untuk penguasa setempat.

Dengan hal itu membuat Senggarang semakin berkembang sebagai pemukiman pendatang waktu itu.

Sejumlah komponen pemukiman masa lalu dapat dijumpai pada saat sekarang berupa tempat peribadatan etnis Tionghoa, dan sumur tua.

pintu gerbang vihara di Senggarang.
pintu gerbang vihara di Senggarang.

Peninggalan kepurbakalaan di Senggarang mencakup peninggalan dari etnis Cina berupa bangunan tempat peribadatan yaitu kelenteng dan vihara:

Kompleks Vihara Dharma Sanana
Kompleks ini dibangun sekitar 200-300 tahun yang lalu oleh imigran dari Cina daratan pada abad ke 18 M. Kompleks vihara ini memiliki empat bangunan utama, tiga di antaranya merupakan klenteng dan merupakan bangunan awal, berada pada bagian depan kompleks menghadap ke laut.

Bangunan yang keempat berada di bagian belakang klenteng pada tanah lebih tinggi, dibangun pada masa kemudian.

Tiga bangunan klenteng pada bagian depan diperuntukan bagi dewa-dewa Cina. Nama ketiga benteng tersebut adalah:

1. Klenteng Fu De Zheng Shen.
Di klenteng ini terdapat Dewa Phe Kong yitu dewa bagi keselamatan di daratan. Dalam hal ini bagi wilayah Senggarang.

2. Klenteng Tian Hou Sheng.
Di klenteng ini terdapat tiga buah dewa. Yang berada di tengah adalah Dewa Ma Chou yaitu dewa untuk keselamatan dalam perjalanan di laut.

Di kiri dan kanan adalah Dewa Phe Kong dengan sebutan Lou Wei Sheng (berada di kanan diperuntukan bagi keselamatan orang yang sudah mati) dan To Po Kong (dikiri diperuntukan bagi keselamatan yang di darat).

3. Klenteng Yuan Tien Shang Di.
Di dalam klenteng ini juga terdapat Phe Kong. Sedangkan bangunan di bagian belakang diperuntukan bagi Sang Budha Amitahba, merupakan bangunan baru.

Kompleks Vihara Dharma Sasana terdiri dari empat bangunan yang berupa satu bangunan baru (Vihara Dharma Sasana) dan tiga buah bangunan lama (Klenteng Yuan Tiang Shang Di, Klenteng Fu De Zheng Shen, dan Klenteng Tian Hou Sheng Mou).

Vihara Dharma Sasana didirikan pada tahun 1988. Sedangkan tiga klenteng yang lama diperkirakan dibangun sekitar abad ke 18, yaitu sejak masa Daeng Celak sebagai Yang Dipertuan Muda Riau II yang memberikan kelonggaran kepada pendatang dari Cina untuk menempati daerah Senggarang.

Sejak itulah, di kasawan ini dibangun perkampungan dan sejumlah rumah ibadah Tionghoa.
Setiap tahunnya, vihara ini ramai dikunjungi pada saat Imlek (tahun baru) Tionghoa dan hari besar keagamaan Budha lainnya.

Saat Imlek, ribuan etnis Tionghoa di Tanjungpinang dan sekitarnya tumpah ruah di vihara ini. Mereka melakukan sembayang untuk menghormati roh dan leluhur mereka yang sudah mati.

Kelenteng Tao Sakong di Senggarang.
Kelenteng Tao Sakong di Senggarang.

Klenteng Tao Sa Kong
Klenteng ini dibangun oleh Kapten Chiao Ch’en tahun 1811. Kondisi klenteng ini sudah dililit oleh akar pohon kayu ara atau beringin.

Bangunan yang tampak sekarang adalah bangunan baru. Sedangkan bangunan lama yang masih tersisa adalah sebagian tembok sisi selatan (bagian depan) dan sisi timur (dinding samping).

Pada sisi dinding tersebut masih dilihat bingkai-bingkai jendela. Bila dilihat dari sisa bangunan yang ada, dahulu bangunan ini terdiri dari dua lantai. Bangunan klenteng ini menempati bekas sebuah rumah tinggal seorang Kapitan Cina yang dibangun abad ke-18. Adapun riwayat pembangunan klenteng itu sendiri, tidak diketahui dengan pasti.

Masyarakat setempat mempercayai kotoran burung di sekitar Kleteng Ta Sa Kong, kotorannya tidak akan bau bila dicium.

Boleh percaya atau tidak, bisa disimak dari pengalaman rekan kami Al Imron. Waktu itu Roni panggilan akrab guide kelas dunia ini ingin membuktikan apakah benar kepercayaan masyarakat setempat.

Roni ingin membuktikan secara langsung kotoran burung di sekitar klenteng Ta Sa Kong bau atau tidak bila dicium.

Dengan percaya diri, Roni memegang kotoran burung yang terdapat di sekitar klenteng Ta Sa Kong ini dengan tangan kirinya. Lalu dengan percaya diri Roni menciumnya.

Kepada kami, Roni mengatakan memang betul kotoran burung yang dipegangnya itu tidak bau. “Kalian tidak percaya, silahkan coba sendiri,” kata Roni bergurau.

“Memang tidak bau, ni cobalah cium,” ujar Roni meyakinkan kami. Namun kami ngotot tidak mau mencium kotoran burung yang berada di tangan Roni tersebut.

“Mungkin hidung Roni sudah tersumbat kali sehingga tidak bisa lagi membedakan mana yang bau dan tidak,” ujar Baba Ketua HPI Kota Tanjungpinang yang mengabdikan moment Roni mencium kotoran burung itu lewat kameranya handphone jadulnya itu.

Kami semua tersenyum melihat “eksprimen kecil” yang dilakukan Roni tersebut. Namun kami sepakat tidak sependapat dengan Roni. Kami tetap pada pendirian kami, tidak ada kotoran yang tidak bau di atas dunia ini. (*)