oleh

Empat Wartawan Tanjungpinang Lulus UKW di LPDS

MEDAKO.CO.ID, Tanjungpinang- Empat wartawan Tanjungpinang mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), pada 13-15 November 2018. Keempatnya lulus.

Mereka adalah Dody Gusman (Poros Kepri), Morina, Mariana dan Leonardo (Info Kepri). Morina dan Dody dinyatakan kompeten menyandang predikat wartawan utama. Adapun Mariana dan Leonardo kompeten tingkat madya.

UKW digelar di Lantai 3 Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Jumlah peserta 20 wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik.

Morina menceritakan, sehari sebelum UKW, para peserta mengikuti lokakarya. Pemateri lokakarya, antara lain Direktur Eksekutif LPDS Hendrayana, Ketua Tim Perumus Standar Kompetensi Wartawan Wina Armada, dan penguji UKW, A.A. Ariwibowo.

Kata Morina, dalam sambutannya Hendrayana menekankan pentingnya Standar Kompetensi Wartawan (SKW). Standar kompetensi ini sebagai bukti bahwa wartawan berkompeten di bidang jurnalistik. Juga untuk melindungi wartawan dalam menjalankan tugas. “SKW bisa menjadi filter jika muncul gugatan hukum terhadap karya jurnalistik,” katanya.

Dan dengan mengikuti UKW, ujar Hendrayana, wartawan akan memiliki kompetensi. Karena UKW salah satu barometer profesionalisme wartawan.

Ketua Tim Perumus Standar Kompetensi Wartawan, Wina Armada menyampaikan bahwa sejak Undang-Undang Pers diberlakukan, pembatasan pers di Indonesia ikut dicabut. Akibatnya, tidak ada saringan dalam dunia pers.

“Yang menikmati malah “penumpang gelap” yang ikut masuk, mengaku menjadi wartawan, menuntut akses, namun bukan untuk kepentingan pers. Seolah-olah gampang sekali menjadi wartawan. Jika tidak dirapikan, akan kacau dunia pers kita,” ujar dia.

Jika kondisi pers yang “kacau” ini dibiarkan, dikhawatirkan sejumlah pihak minta kemerdekaan pers ditinjau ulang bahkan minta dicabut, karena dianggap kebablasan. Maka, kata Wina, diperlukan parameter untuk mengukur siapa yang bisa disebut wartawan.

“Ada ancaman dari dalam diri pers sendiri yang jika dibiarkan akan membahayakan pers tersebut. SKW diperlukan agar jelas siapa wartawan dan siapa yang tidak,” katanya.

Morina mengatakan, LPDS menambah satu mata uji baru pada UKW kali ini, yakni uji Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan Hukum terkait Pers. Menurut salah satu penguji UKW, A.A. Ariwibowo, mata uji baru ini akan jadi mata uji tetap UKW selanjutnya. “Untuk semua jenjang,” kata dia.

Sementara Mariana menceritakan, saat UKW para peserta diminta merekonstruksi pekerjaan kewartawanan. Para penguji akan mencatat semua bukti selama proses rekonstruksi kemudian memberi nilai, masukan, dan mengevaluasi. “Jadi uji kompetensi ini bukan untuk belajar, tapi ajang unjuk kemampuan,” katanya.

Bagi Pemimpin Redaksi Poros Kepri, Dody Gusman, UKW di LPDS ini adalah kali kedua. Sebelumnya ia gagal. Dan Dody pantang menyerah. Ia meyakinkan diri untuk kembali tampil di tempat yang sama. Dan berhasil. Itu sebabnya ia mengajak rekan-rekan wartawan yang belum UKW segera mendaftarkan diri.

“UKW tidak sesulit yang dibayangkan, meski memang butuh kemampuan,” katanya, Rabu, 21 November 2018, di kedai kopi sekitaran Lapangan Pamedan, Tanjungpinang.

Dody hanya menjawab pendek ketika ditanya Medako bagaimana rasanya lulus UKW. “Begitulah,” ujar dia.

Reporter: Sudirman

News Feed