oleh

Desa Landak Inisiasi Festival Seni dan Budaya Berbasis Masyarakat

MEDAKO.CO.ID, Jemaja- Dua pengurus Yayasan Umar Kayam Kabupaten Anambas, Roni Keron dan Febrinawan, bertolak ke desa Landak, Kecamatan Jemaja, Senin, 21 Oktober 2019. Maksud kedatangan dua penggiat seni dan budaya ini ingin bertemu masyarakat untuk berdialog dan berbagi ilmu terkait seni dan budaya. Masyarakat didorong melahirkan kegiatan berbasis kearifan lokal.

“Tak disangka masyarakat Desa Landak rupanya mempunyai sebuah peristiwa yang dimaksud. Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2019 dijadikan momen membangun kebersamaan dengan menggerakkan masyarakat,” kata Febrinawan kepada media ini.

Berbagai elemen masyarakat, seperti karang taruna, Pemuda Pancasila, pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), termasuk pemerintah desa, secara bersama-sama terlibat aktif.

Pelbagai kegiatan guna memeriahkan peringatan Hari Sumpah Pemuda dikerjakan dengan semangat gotong royong yang guyub. Tidak tanggung-tanggung, acara dihelat selama hampir sepekan.

Salah satunya adalah lomba drama antarsekolah, lomba domino, dan pertunjukan kesenian mendu selama 3 malam.

“Apa yang kami bayangkan rupanya telah dilakukan masyarakat. Agaknya mereka sudah malakukan sebelum kami memikirkan,” ujar Febri.

Roni Keron dan Febrinawan berterima kasih kepada Kepala Desa Landak bersedia memfasilitasi keduanya bertemu dengan masyarakatnya.

Hadir pada pertemuan di kantor desa ini sejumlah elemen masyarakat, seperti anggota pokdarwis, Ketua RT/RW, tokoh masyarakat dan lainnya. Mereka diajak memetakan kawasan desa beserta potensinya.

“Umar Kayyam menyebutnya dengan istilah modal sosial dan modal kultural,” kata Febri.

Dalam diskusi, muncul di antaranya area yang dipandang cocok dijadikan wisata seni. Karena lingkungan ini memiliki banyak kesenian yang hingga hari ini masih dimainkan dan dinikmati oleh masyarakat.

Adapun Gunung Datuk dan sekitarnya dinilai pas ditetapkan sebagai kawasan wisata sejarah. Di gunung ini terdapat benda-benda peninggalan Jepang. Gunung tersebut juga dipercaya menyimpan hal-hal magis.

Terdapat pula zona yang dinilai patut jadi wisata kuliner. Bahkan aneka santapan yang banyak ditemui di Tanjungpinang sebagian berasal dari Desa Landak.

Selanjutnya, tentu saja objek wisata bahari. Utamaya untuk menarik minat wisatawan yang hobi diving dan snorkeling.

“Dari apa yang dianggap potensial tersebut, mayarakat kemudian diajak membuat semacam itenary. Jika kemudian tiba-tiba orang ingin datang ke desa Landak, kemana saja tamu-tamu ini akan dibawa, serta berapa biaya yang dikeluarkan,” kata Febri.

Strategi masyarakat untuk menarik orang-orang dari luar Anambas agar datang dan betah berlama-lama di Desa Landak serta event apa saja yang bisa digagas agar menjadi magnet menarik kedatangan wisatawan, juga menjadi materi diskusi.

“Intinya, bagaimana memajukan desa dengan segala potensinya menjadi materi diskusi kita bersama masyarakat,” ujarnya.

Yang jelas selama di Landak, Roni dan Febri jadi penonton pelbagai kegiatan berbasis kemasyarakatan yang sebelumnya telah diinisiasi sendiri oleh warga.

Reporter: Muslim

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed