oleh

Amoy Kawe dari Senggarang

MEDAKO.CO.ID, Tanjungpinang- Wanita berparas “asam-manis” ini kerap kali dikira amoy. Mungkin karena kulitnya yang putih plus body langsing padat berisi. Tapi yang dikira sama sekali tak merasa. “Amoy apa, sih. Amoy dari Senggarang ke?” kata Novina.

Ditambah lagi kemampuan ASN Pemko Tanjungpinang ini berbahasa mandarin yang mengalir macam air.

Ovie kadang tak terima dipanggil amoy. Karena, kata dia, amoy dalam bahasa Tionghoa untuk menyebut gadis muda. “Kalau macam kita ni dipanggil cece.”

Maksud Ovie dirinya sudah beranak. Tak pas disebut amoy. Meski begitu, sebagian rekannya tetap beranganggapan dirinya masih belia. “Sudah punya anak tapi wajahmu aduhai begitu. Aku saja pangling. Apalagi yang lain,” kata Jono.

Entahlah. Rekan Ovie yang satu ini setiap kali berucap selalu menjulurkan lidah.

Seringnya dikira amoy membuat Ovie kerap diminta rekannya yang lain, Baba Fahrul menjadi tour guide di Senggarang. Utamanya untuk menemani turis asal Singapura atau Cina.

Ovie tak keberatan. Tapi: wani piro…

Selasa (9 April 2019) lalu, ketika mendampingi Kelompok Sadar Wisata Se-Kecamatan Tanjungpinang Kota yang turun ke Senggarang, Ovie turut ambil bagian. Ia ceritakan tentang vihara yang dililit akar pohon beringin. “Panjang kalau diceritakan semua,” katanya.

Diam-diam, amoy kawe ini juga rupanya jago masak makanan khas Melayu. Ketika ditantang Wiwin dari Kemenpar RI untuk masak, dia langsung unjuk gigi. Setidaknya selama dua jam, Ovie jadi chef dadakan masakan khas Melayu di Pulau Penyengat.

Sayang ketika masakan sudah tersaji Ovie tak mau makan. “Biarlah tetamu yang makan duluan. Saya belakangan,” ujar dia.

Reporter: Anabella

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed